Laporan The Guardian menyebutkan, eskalasi terbaru dipicu oleh serangan Hizbullah yang menewaskan empat tentara Israel. Insiden itu menyebabkan pembatalan pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss yang sedianya membahas implementasi kesepakatan baru terkait isu regional dan program nuklir Teheran.
Sebagai respons, Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke sejumlah wilayah di Lebanon Selatan dan Lembah Bekaa. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 47 orang.
Pertemuan yang batal digelar itu rencananya berlangsung di Obbürgen, Swiss, sebagai tindak lanjut nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani dua hari sebelumnya. Dokumen tersebut memberikan waktu 60 hari bagi para pihak untuk merundingkan kesepakatan permanen mengenai program nuklir Iran sekaligus menjamin kelancaran jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.
Dalam nota kesepahaman itu juga tercantum komitmen untuk menghentikan permusuhan di berbagai kawasan konflik, termasuk di Lebanon.
Ketua negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengingatkan seluruh pihak agar mematuhi kesepakatan yang telah dicapai. Seperti dikutip dari laman CNN Indonesia, Ia menegaskan bahwa setiap pelanggaran akan mendapat respons tegas dari Iran.
Bentrok terbaru antara Israel dan Hizbullah disebut sebagai salah satu yang paling serius sejak gencatan senjata diberlakukan. Hizbullah meluncurkan sejumlah roket dan drone ke arah pasukan Israel di sekitar Nabatieh, Lebanon Selatan, setelah sebelumnya terjadi aksi saling tembak sporadis pada Kamis 18 Juni 2026.
Israel kemudian membalas dengan serangan udara ke Nabatieh dan sejumlah wilayah di sekitarnya yang diklaim sebagai basis serta target milik Hizbullah. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 18 orang tewas dan 33 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Meski sempat memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik yang lebih luas, situasi berangsur mereda menjelang malam. Seorang pejabat Israel menyatakan bahwa negaranya tidak menginginkan perang berkepanjangan selama tidak ada serangan dari pihak Hizbullah.
“Jika Hizbullah tidak menyerang kami, maka bagi kami ini bukanlah masa perang,” ujar pejabat tersebut pada Jumat malam.
Dengan diperbaruinya gencatan senjata, komunitas internasional berharap stabilitas di perbatasan Israel-Lebanon dapat kembali terjaga dan mencegah meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Editor: Anast
