Widjaja Lukito: "Prioritas Peningkatan Gizi Hadapi Mutasi COVID-19"

Ilustrasi foto: merdeka.com

Jakarta, SEMARANG Post - Beragam vaksinasi yang masif diseluruh belahan dunia belum bisa dijanjikan mampu hadapi mutasi virus Covid-19. Beberapa negara kembali terjadi peningkatan kasus meskipun vaksinasi sudah mencapai lebih dari 70 persen. Oleh karenanya menjadi penting mengelola strategi peningkatan gizi dan nutrisi setiap individu masyarakat, demikian tutur dr. Widjaja Lukito, Ph.D pada  Senin 13 September 2021 


Pada hari sebelumnya, Jumat (10/9/2021),  dalam Konferensi Nasional Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) lewat zoom meeting,  dengan tema 'Meningkatkan Gizi dan Nutrisi Masyarakat Di tengah Pandemi' dr.Widjaja Lukito, Ph.D juga menyampaikan strategi umum fokus pada pengingkatan gizi dan nutrisi masyarakat yang bertujuan memastikan resiliensi (daya tahan) tubuh setiap individu masyarakat


"Sehingga bisa bertahan dari berbagai serangan virus. Singkatnya adalah setiap orang harus memiliki 'otot kawat, balung wesi' diera serangan wabah apapun," jelas dr.Widjaja Lukito, Ph.D pada acara yang dihadiri relawan kesehatan, bidan dan dokter dari berbagai daerah di seluruh Indonesia tersebut. 


Sebagai dokter ahli gizi, dr.Widjaja Lukito, Ph.D mengingatkan bahwa gizi dan nutrisi yang cukup sebenarnya juga menjadi syarat agar imunitas dan antibodi tubuh bisa meningkat setelah divaksin.


"Kalau gizi dan nutrisi seseorang tidak memadai, vaksinasi kurang efektif meningkatkan imunitas antibodi dalam tubuh. Makanya, habis terinfeksi atau habis divaksin harus banyak istirahat dan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi. Agar antibodi dapat meningkat secara efektif," jelasnya. 


Fenomena ini sudah terdokumentasi dari berbagai penelitian bahwa zat gizi esential penting sebagai bahan baku pembentukan antibodi dan peningkatan sistem imun. Dalam mengadakan asupan makanan yang bergizi sudah saatnya masyarakat belajar mandiri mengolah potensi bahan pangan dilingkungannya seperti menanam sayuran, umbi-umbian, beternak ayam dan membuat kolam ikan, demikian papar dr.Widjaja Lukito, Ph.D


"Jangan lagi selalu menunggu bantuan pemerintah. Semua itu mudah dilakukan secara bergotong royong ditingkatan RT. Itu namanya rakyat membangun ketahanan pangan secara mandiri," tegas mantan Staf Khusus Menkes Siti Fadilah 2004-2009.


Jika masyarakat sudah memiliki sistem gotong royong di semua RT untuk ketahanan pangan wilayahnya, maka pemerintah akan lebih mudah menyalurkan bantuan berbasis kebutuhan. Karena masyarakat tinggal mengembangkan ketahanan pangan secara berkelanjutan," ujarnya, 


Sehingga APBN dan APBD menjadi fokus pada ketahanan pangan rakyat dan penyembuhan pasien di rumah-rumah sakit bisa menekan angka kematian.


"Strategi peningkatan gizi ditengah pandemi ini tidak bisa dihindari, agar pendanaan dan sumberdaya benar-benar efisien dan efektif berbasiskan kebutuhan masyarakat yang harus berhadapan dengan berbagai kesulitan akibat kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat," tegasnya dalam Konferensi Nasional DKR yang dibuka oleh Dr. dr. Siti Fadilah Supari,  Sp.JP (K) sebagai Ketua Dewan Pembina DKR ini.


Sebelumnya, Konferensi Nasional DKR Jumat (20/8) bertemakan ‘Pandemi dan Bioterorisme’. Selanjutnya Konferensi Nasional.DKR Jumat (27/8) yang bertemakan 'Perlindungan Diri Menghadapi Covid-19'. Konferensi Nasional dilanjutkan dengan tema 'Hak dan Kewajiban Rakyat Di Tengah Pandemi' Jumat (3/9)


Rangkaian Konferensi Nasional DKR berikutnya akan diadakan setiap minggu dalam bulan ini membahas beberapa tema penting saat ini yaitu, ‘Tentang Peran Vitamin D3 Memastikan Imunitas Tubuh Di Tengah Pandemi’, dan “Tentang Ancaman Megathrust dan Tsunami’.


Kontributor: Satgas Covid-DKR
Editor: B. Rustono
Lebih baru Lebih lama
CLOSE ADS
CLOSE ADS