Pecinan Semarang Warisan Budaya Multikultural


Semarang, SEMARANG Post - Pecinan Semarang merupakan salah satu kawasan budaya Tionghoa yang berada di jantung Kota Semarang. Berbagai kajian sejarah menyebut kawasan ini sebagai permukiman Tionghoa tertua yang tumbuh bersamaan dengan aktivitas perdagangan di pesisir utara Jawa.

Handinoto, dalam penelitiannya berjudul “Perkembangan Permukiman Tionghoa di Kota-Kota Pantai Jawa” yang dipublikasikan dalam Jurnal Dimensi Teknik Arsitektur, menjelaskan bahwa Pecinan Semarang berkembang mengikuti dinamika pelayaran dan perdagangan. Kawasan ini kemudian berfungsi sebagai pusat permukiman, kegiatan ekonomi, serta ruang interaksi sosial masyarakat Tionghoa di kota pelabuhan.

Penelitian lain oleh Dewi Yuliati dalam Jurnal Paramita Universitas Negeri Semarang menunjukkan bahwa fungsi Pecinan tidak terbatas sebagai kawasan hunian. Keberadaan klenteng, pasar tradisional, serta rumah-rumah tua menjadikan kawasan ini sebagai pusat ibadah, perdagangan, dan aktivitas sosial warga.

Seiring pertumbuhan Kota Semarang, Pecinan mengalami perubahan fungsi menjadi kawasan wisata berbasis budaya. Budi Prasetyo dalam Jurnal Sejarah Citra Lekha Universitas Diponegoro menegaskan bahwa Pecinan Semarang memiliki peran strategis sebagai warisan budaya perkotaan yang membentuk identitas historis kota.

Daya tarik kawasan ini terlihat dari keberadaan klenteng-klenteng bersejarah, pasar tradisional, serta kuliner khas Tionghoa yang masih bertahan. Wisatawan tidak hanya menikmati keunikan arsitektur dan ragam makanan, tetapi juga merasakan langsung kehidupan sosial masyarakat setempat.

Berbagai kegiatan budaya rutin diselenggarakan untuk memperkenalkan tradisi Tionghoa kepada publik. Dewi Yuliati mencatat bahwa perayaan Imlek, pertunjukan barongsai, hingga festival lampion menjadi agenda tahunan yang memperkuat peran Pecinan sebagai ruang budaya terbuka.

Kegiatan tersebut berlangsung melalui festival, pertunjukan seni, dan perayaan tradisional yang dapat diakses oleh masyarakat luas. Momen-momen ini sering dimanfaatkan pengunjung untuk mengenal sejarah kawasan sekaligus mengabadikan suasana heritage Pecinan Semarang.

Johannes Widodo dalam kajiannya “Chinese Settlement and Urban Heritage in Java” menyebut Pecinan sebagai simpul penting interaksi lintas budaya yang turut membentuk perkembangan kota-kota di Jawa, termasuk Semarang.

Di luar fungsinya sebagai destinasi wisata, Pecinan Semarang tetap menjadi ruang pertemuan sosial bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Aktivitas keseharian warga, kegiatan ekonomi skala kecil, serta pertemuan komunitas berlangsung berdampingan dengan arus wisata.

Bagi banyak wisatawan, Pecinan Semarang memiliki nilai edukatif yang kuat terkait sejarah dan keberagaman budaya kota. Kawasan ini tidak hanya dipandang sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai ruang hidup yang aktif menjaga tradisi dan identitas budaya hingga kini.

Pewarta: Anast
Editor: D Wiedhya
Lebih baru Lebih lama
TUTUP
TUTUP