UTY Gandeng HRD Grup Perluas Kesempatan Magang


Jakarta, SEMARANG Post - Upaya inovasi dan pembenahan di dunia pendidikan tinggi merupakan agenda penting yang selalu mendapat perhatian dari pemerintah dan masyarakat. 

Upaya terobosan pun dilakukan oleh kampus-kampus guna menjawab tantangan dan harapan pemerintah serta masyarakat. Salah satunya,  dilakukan Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) dengan menggandeng Human Capital Digital Media Club (HC Dig Me Club) yang merupakan wadah para manajer HRD grup-grup media nasional di Jakarta.

Kerjasama tersebut ditandai dengan penyelenggaraan silaturahmi dan diskusi bertajuk “Sinergi Sektor Industri dan Perguruan Tinggi” pada Rabu,6 Juli 2022, di Hotel Menara Bidakara, Jakarta. 

Pada sesi pembuka diskusi, hadir Rektor UTY, DR. Bambang Moertono Setiawan, MM., Ak., CA. yang memaparkan inovasi perguruan tinggi menjawab kebutuhan dunia industri.  Sedangkan  Direktur TV One, DR. Dudi Hendrakusuma menguraikan tantangan-tantangan yang dihadapi industri media dalam memenuhi kebutuhan SDM-nya.

Acara diskusi ditandai pula dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara HC Dig Me Club yang diwakili oleh Ketua Steering Committte HC Dig Me Club, DR. Hery Kustanto, MM dengan Rektor UTY. Hery Kustanto merupakan VP Human Capital & Corporate Service PT. Net Mediatama Televisi (NET). 

Salah satu point tertuang dalam nota kesepahaman tersebut adalah kesempatan pemagangan mahasiswa UTY di media-media nasional. Kegiatan magang di industri media ini mendapat perhatian khusus dari UTY. 

“Kami melihat masih adanya kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dengan dunia kerja. Untuk mempersempit gap inilah, kami berinisiatif menggandeng dunia industri, termasuk bersama HC Digme Club,” ujar Bambang. 

Keuntungan yang diraih kedua belah pihak ,  UTY mendapatkan mitra untuk mahasiswanya magang di perusahaan media nasional. Sedangkan dari media, berkesempatan untuk memantau talenta-talenta potensial lebih awal yang memungkinkan direkrut. 

Bambang menjelaskan bahwa program magang dua semester ini sebenarnya telah mereka rancang dalam kurikulum baru UTY sejak tahun 2017, sebelum digulirkannya program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Seperti diketahui, MBKM merupakan terobosan Mendikbud Nadiem Makariem bertujuan mendorong mahasiswa menguasai berbagai keilmuan sebagai bekal memasuki dunia kerja. Hal ini kemudian diwujudkan melalui Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang telah ditetapkan sejak 24 Januari 2020 melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 3 tahun 2020. 

“Kami terapkan kurikulum baru yang selaras dengan standar baru tersebut sejak 11 Juli 2020,” kata Bambang. 

Dengan standar baru ini, mahasiswa akan belajar satu semester di luar program studinya di kampus yang sama. Lalu dua semester belajar di luar kampus, seperti magang di perusahaan, imbuhnya. 

“Tak hanya magang, kerjasama dengan industri media ini memungkinkan mahasiswa kami untuk melakukan penelitian di tempatnya magang, dan melaksanakan proyek independen misalnya bikin kreasi acara,” papar Bambang. 

Bambang juga mengungkapkan, pihaknya tak hanya memagangkan mahasiswa, tapi juga dosen. Tujuan dari magang dosen ini agar para pengajar ini juga mendapatkan gambaran yang utuh antara teori dan praktek di lapangan. 

Sistem pemagangan merupakan bagian dari sinergi antara industri dan pendidikan tinggi. Di luar manfaat praktis dalam hal pengembangan SDM, 

Bambang mengingatkan bahwa setiap pengeluaran perusahaan yang dikarenakan oleh adanya kegiatan magang ini, nilainya bisa dikonversi menjadi pengurangan pajak. Hal ini sudah diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur pengurangan pajak sampai 200 persen dari total biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan untuk mengelola pemagangan. Lebih besar lagi, perusahaan bisa mendapat pengurangan pajak yang nilainya 300 persen dari total biaya yang telah perusahaan keluarkan untuk riset bersama kampus. 

“Pemerintah sebenarnya telah mendorong tumbuh kembangnya kultur riset dan inovasi antara kampus dan industri melalui peraturan tersebut. Nah kami ingin mewujudkannya bersama rekan-rekan industri media,”pungkas Bambang. 

Di penyelengaraan tersebut hampir semua eksekutif HRD grup media nasional hadir, seperti NET, MNC Group (RCTI, Global TV, MNC TV, INews), Viva Group (ANTV, TV One, Vivanews), Trans Media (Trans TV, Trans7, CNN Indonesia, Detik), Emtek Group (SCTV, Indosiar), Metro TV, RTV, dan beberapa digital media lainnya.

”Dengan adanya kurikulum baru ini kami berharap mahasiswa dan lulusan UTY bisa lebih kreatif, inovatif dan jadi generasi unggul. Seperti tagline UTY, cepat lulus, cepat berkarir, dan cepat sukses”  ucap Bambang saat sesi ramah tamah

UTY, perguruan tinggi swasta berdiri pada 23 Oktober 2002 dan merupakan penggabungan tiga perguruan tinggi, yaitu STIE Yogyakarta (STIE YO), Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO), dan Sekolah Tinggi Manajemen dan Informatika Komputer Dharma Bangsa (STMIK DB). 

Saat ini UTY mengelola 14 ribu mahasiswa yang tersebar di 27 program studi. Beberapa program studi baru juga dirintis, dua diantaranya adalah program studi sains data dan program studi informatika medis di Fakultas Sains dan Teknologi. 

“Ini bagian dari visi kami menjawab tantangan revolusi industri 4.0 yang akan memunculkan profesi baru dengan keahlian baru,” ujar Bambang.

Pada kesempatan tersebut Bambang berharap agar kerjasama dengan Human Capital Digital Media Club (HC Dig Me Club) berjalan lancar dan semakin mendekatkan dunia perguruan tinggi dengan industri. Mengingat sinergi kedua sektor ini sangat strategis untuk kemajuan dan daya saing SDM Indonesia.


Kontributor: Kastara Indonesia
Editor: B. Rustono
Lebih baru Lebih lama