Sensasi Tiwul Gunung Merapi

 


Magelang,SEMARANG Post - Tiwul, makanan tradisional masyarakat Jawa yang berbahan dasar singkong dan diproses menjadi tepung gaplek biasa disebut sebagai jajanan pasar seperti halnya kue lupis, gatot, dan cenil.   

Sebagai makanan tradisional  tiwul tercatat dalam sejarah pernah digunakan sebagai makanan pokok sebagian penduduk Indonesia pada masa penjajahan Jepang. 

Seiring perkembangan jaman keberadaan tiwul kini cenderung tergeser dengan hadirnya kuliner kekinian.Namun demikian, ditangan Mura Arista tiwul tampil penuh kreasi tanpa meninggalkan muatan lokalnya 

" Kami namakan Tiwul Gunung Merapi, bentuknya kami buat mirip gunung merapi dengan puncak yang dipenuhi lava" tutur Mura   

Mura Arista, menekuni olahan makanan tradisional sejak lokasi wisata Candi Borobudur terdampak pandemi Covid-19. Menurunnya wisatawan baik lokal maupun mancanegara secara langsung berdampak juga terhadap dirinya sebagai pemandu wisata kawasan tersebut.

Menghadapi situasi demikian bersama Linda Purwaningsih (isterinya), Mura tidak patah semangat memutar roda ekonomi rumah tangganya. Tempat tinggalnya  di Bumen, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah disulap menjadi rumah produksi sekaligus kedai olahan  tiwulnya yang tampil beda dari yang pernah ada,

" Ide, terinspirasi dari Gunung Merapi yang akhir-akhir ini selalu mengalami erupsi " jelas Mura 

Dari keterangannya, Mura mengatakan produksi Tiwul Gunung Merapi mengalami peningkatan dan banyak dikenal juga diburu pecinta kuliner serta masuk kedaftar panganan oleh-oleh.

Beragam varian 'Tiwul Gunung Merapi' tersedia menggugah selera, seperti varian rasa gula Jawa, cokelat keju, cokelat atau keju saja, ada juga yang dicampur dengan pisang serta tentunya  varian original. Masalah harga ? bersahabat !, ungkap Mura

" Rasanya enak,lembut manis dan legit. Menariknya lagi ketika tiwul ini diiris pas di puncaknya, toping dari gula jawa langsung lumer mengalir ke bawah  seperti kondisi Gunung Merapi saat erupsi." ucap Kurnianto, penikmat tiwul di kedai Mura 


Pewarta: Iwan Alfianto
Editor: Anast
Lebih baru Lebih lama