Suhu Semarang Kian Panas, Terpanas Sepanjang Sejarah


SEMARANG, SEMARANG Post — Tren kenaikan suhu udara di Jawa Tengah, terutama Kota Semarang, semakin mengkhawatirkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah mencatat anomali suhu terpanas sepanjang sejarah pencatatan iklim.

Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Ahli Madya BMKG Jawa Tengah, Zauyik Nana Ruslana, mengatakan, peningkatan suhu secara global telah berlangsung secara berkelanjutan sejak berakhirnya Perang Dunia Kedua. Namun, tren kenaikan suhu di Jawa Tengah, khususnya Semarang, terlihat semakin tajam sejak 2010.

Menurut Zauyik, kenaikan suhu sebesar satu derajat Celsius tidak bisa dianggap sepele. Perubahan tersebut dapat memengaruhi kenyamanan masyarakat sekaligus meningkatkan frekuensi terjadinya anomali suhu.

"Kenaikan suhu sebesar satu derajat Celsius mungkin terlihat kecil. Tapi, dampaknya dapat mengurangi kenyamanan dan meningkatkan frekuensi terjadinya anomali suhu," kata Zauyik dalam Lokakarya Validasi dan Diskusi Kelompok Fokus (FGD) tentang Studi Multi Kasus Adaptasi Panas Perkotaan yang diselenggarakan Yayasan Kota Kita di Semarang, Senin (19/10/2026).

September-Oktober Jadi Periode Panas Ekstrem

Zauyik menjelaskan, lonjakan suhu udara paling ekstrem di Jawa Tengah pada 2026 terjadi pada periode September hingga Oktober.

Kenaikan suhu tersebut tidak hanya berdampak pada kenyamanan warga, tetapi juga memengaruhi dinamika iklim mikro di kawasan perkotaan. Kondisi ini turut berkaitan dengan pergeseran jadwal musim yang dapat memengaruhi aktivitas masyarakat sehari-hari.

Dampak panas perkotaan atau urban heat menjadi perhatian khusus, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan permukiman padat. Keterbatasan ruang terbuka, kondisi lingkungan sekitar, serta karakteristik bangunan dapat memengaruhi paparan panas yang dirasakan penghuni.

Di Semarang, persoalan tersebut turut menjadi perhatian dalam kajian yang dilakukan Yayasan Kota Kita di Kampung Kalicilik dan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Kaligawe.

Material Bangunan Memengaruhi Ketahanan Warga terhadap Panas

Riset Yayasan Kota Kita yang berlangsung selama setahun terakhir menunjukkan bahwa bentuk dan material bangunan hunian memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan warga menghadapi suhu tinggi.

Karakteristik rumah dapat memengaruhi kondisi termal di dalam ruangan, sehingga berpengaruh terhadap kenyamanan penghuni ketika suhu udara meningkat. Persoalan ini menjadi penting bagi masyarakat yang tinggal di permukiman padat maupun rumah susun dengan keterbatasan ruang dan pilihan penyesuaian bangunan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa upaya menghadapi panas perkotaan tidak cukup hanya dengan memahami perubahan suhu berdasarkan data iklim. Kondisi tempat tinggal dan pengalaman warga juga perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam merancang langkah adaptasi.

Program Manager Urban Resilience Yayasan Kota Kita, Silvania Utami, mengatakan, hasil penelitian perlu dikaitkan dengan data ilmiah BMKG serta kondisi nyata yang dialami masyarakat.

Menurutnya, perpaduan data iklim dan temuan lapangan dapat memberikan gambaran lebih menyeluruh mengenai dampak panas perkotaan, sekaligus menjadi dasar untuk menyusun kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan warga.

"Data ini akan menjadi masukan berharga dalam penyusunan rekomendasi kebijakan perumahan yang lebih inklusif dan berketahanan iklim ke depan," tegas Silvania.

Kebijakan Perumahan Perlu Mempertimbangkan Risiko Panas

Meningkatnya suhu perkotaan menjadi tantangan tersendiri bagi pembangunan perumahan di Semarang. Hunian tidak hanya perlu memenuhi kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga perlu mempertimbangkan kenyamanan termal dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Temuan riset di Kampung Kalicilik dan Rusunawa Kaligawe diharapkan dapat memperkuat pertimbangan pemerintah dalam merumuskan kebijakan perumahan yang lebih responsif terhadap risiko panas.

Dengan mengintegrasikan data meteorologi, kondisi bangunan, dan pengalaman masyarakat, kebijakan adaptasi diharapkan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga pada perlindungan kenyamanan dan kualitas hidup warga di tengah meningkatnya suhu perkotaan.

Pewarta: Dwi Novianto
Editor: Anast
Lebih baru Lebih lama
TUTUP
TUTUP