Semarang, SEMARANG Post - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengakui program Makan Bergizi Gratis (MBG) berdampak pada peningkatan timbulan sampah organik, khususnya dari aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Karena itu, setiap dapur MBG didorong untuk mengelola sampah secara mandiri agar tidak semakin membebani tempat pembuangan akhir (TPA).
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, Widi Hartanto, mengatakan peningkatan sampah memang tidak terhindarkan seiring bertambahnya jumlah dapur MBG. Pihaknya pun telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk menyiapkan langkah penanganan bersama pemerintah kabupaten dan kota, demikian seperti dilansir dari laman Kompas.com (18/2/2026)
Menurut Widi, salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan pelatihan khusus kepada pengelola dapur MBG agar mampu mengolah sampah dari sumbernya.
Pelatihan pengolahan dan berbagai metode
DLHK Jawa Tengah menyiapkan sejumlah skema pengelolaan sampah organik yang dapat diterapkan langsung di dapur SPPG. Beberapa metode yang ditawarkan antara lain pemanfaatan sisa bahan makanan sebagai pakan magot, pengolahan menggunakan komposter, hingga pemanfaatan lubang biopori khusus sampah organik.
Berbagai inovasi tersebut diharapkan mampu menekan volume sampah yang harus dibuang ke TPA sekaligus memberi nilai tambah, terutama dari pengolahan magot yang memiliki potensi ekonomi.
Meski demikian, DLHK mengakui belum memiliki data pasti mengenai jumlah timbulan sampah dari aktivitas SPPG karena sifatnya yang fluktuatif. Namun, peningkatan jumlah dapur MBG diyakini berbanding lurus dengan bertambahnya volume sampah organik.
Kurangi tekanan pada TPA
Widi menegaskan pengelolaan sampah harus dilakukan sejak dari sumbernya. Dapur SPPG diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada pengangkutan sampah ke TPA, apalagi banyak tempat pembuangan akhir di Jawa Tengah sudah mengalami kelebihan kapasitas.
Pendekatan serupa juga didorong untuk diterapkan di pasar, kawasan wisata, hingga perkantoran. Menurutnya, pengelolaan di tingkat sumber lebih mudah diawasi dan lebih efektif mengurangi beban lingkungan.
Sisa makanan siswa juga perlu dikelola
Selain limbah dari dapur, sisa makanan siswa yang tidak habis juga menjadi perhatian. DLHK mendorong sekolah dan masyarakat ikut berperan dalam pengelolaan sampah dari hulu, termasuk memanfaatkan sisa makanan untuk budidaya magot.
Pengolahan sampah organik tidak hanya membantu mengurangi timbulan limbah, tetapi juga berpotensi memberi manfaat ekonomi. Karena itu, pengelolaan sampah berbasis sumber diharapkan menjadi kebiasaan bersama di seluruh lapisan masyarakat.
Editor: Anast
