Prosesi Adat Warnai Hari Jadi ke-505 Kabupaten Semarang, Jamasan Pusaka dan Merti Bumi Serasi Sarat Makna

Foto/Dok: Rasika Fm

Ungaran, SEMARANG Post - Peringatan Hari Jadi ke-505 Kabupaten Semarang pada 2026 berlangsung khidmat melalui rangkaian prosesi adat Merti Bumi Serasi dan jamasan pusaka peninggalan Ki Ageng Pandanaran. Kegiatan digelar di kompleks rumah dinas Bupati Semarang pada Rabu (11/2/2026) sore, menjadi simbol pelestarian tradisi sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat.

Rangkaian utama peringatan ini meliputi prosesi Lung Tinampi Tirta Perwita Sari atau serah terima air suci, wilujengan (selamatan), serta jamasan pusaka leluhur. Prosesi jamasan diawali dengan penyerahan keris pusaka peninggalan Ki Ageng Pandanaran II oleh Bupati Semarang Ngesti Nugraha kepada penjamas, sebagai tanda dimulainya penyucian enam pusaka warisan leluhur. Pusaka tersebut terdiri atas satu tombak lurus, dua tombak trisula, dan tiga bilah keris.

Penetapan Hari Jadi Kabupaten Semarang berlandaskan fakta sejarah yang menyebut Ki Ageng Pandanaran sebagai Bupati Semarang pertama pada 15 Maret 1521. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan secara resmi melalui Peraturan Daerah Kabupaten Semarang Nomor 1 Tahun 2013.

Penjamas pusaka, AM Sutikno, menjelaskan bahwa jamasan tidak sekadar membersihkan pusaka secara fisik, tetapi juga menjadi sarana refleksi diri. Menurutnya, tradisi ini mengingatkan masyarakat untuk terus memperbaiki diri dan berkontribusi dalam pembangunan daerah demi mewujudkan Kabupaten Semarang yang gemah ripah toto tentrem.

Ia juga menekankan pentingnya pemaknaan tradisi bagi generasi muda. Jamasan, kata dia, bukan hanya simbol budaya, tetapi juga pengingat nilai tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Air yang digunakan dalam prosesi jamasan dikumpulkan dari sumber mata air di 19 kecamatan se-Kabupaten Semarang. Pengambilan air melibatkan masyarakat hingga pelajar, kemudian diestafetkan antarwilayah sebelum disatukan di pendopo sebagai Tirta Perwita Sari.

Selain membawa air suci, setiap kecamatan juga menyertakan hasil bumi khas daerah masing-masing dalam kirab Metri Bumi Serasi. Bupati Semarang Ngesti Nugraha menyebut hal tersebut sebagai wujud rasa syukur atas limpahan rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa. Seluruh peserta kirab pun mengenakan busana khas “Gagrak Semarangan” yang telah menjadi identitas budaya daerah.

Rangkaian peringatan Hari Jadi ke-505 Kabupaten Semarang yang mengusung tema “Sinergi dan Kolaborasi Wujudkan Kabupaten Semarang Berdikari” sebelumnya diawali dengan ziarah ke makam Sunan Pandanaran I di Mugassari, Kota Semarang, pada 4 Februari 2026. Ziarah diikuti jajaran Forkompimda, pimpinan DPRD, wakil bupati, tokoh agama, hingga pimpinan perangkat daerah.

Bupati Ngesti Nugraha menegaskan bahwa Metri Bumi Serasi menjadi momentum penting untuk nguri-uri budaya sekaligus memperkuat rasa syukur masyarakat atas hasil bumi yang melimpah. Ia berharap Kabupaten Semarang senantiasa diberi kesehatan, keberkahan, dan kedamaian, serta terhindar dari bencana.

“Semoga masyarakat Kabupaten Semarang semakin maju, sejahtera, dan tetap dalam lindungan Allah SWT,” pungkasnya.

Pewarta: Yunus Kurniawan
Editor: Anast
Lebih baru Lebih lama
TUTUP
TUTUP