Kapten Kapal Masih Berusia 13 Tahun


Boyolali-SEMARANG Post - Insiden tenggelamnya perahu wisata di waduk Kedung Ombo Boyolali pada Sabtu 15 Me1 2021 siang menjadi pelajaran agar kejadian serupa tak terulang lagi


Sebagai destinasi wisata di Waduk Kedung Ombo, perahu wisata merupakan daya tarik bagi wisatawan disamping sebuah resto 'warung apung' yang terdapat diantara karamba ikan.


Untuk mencapai warung tersebut para wisatawan harus menyeberang dengan perahu kecil dengan kapasitas penumpang sekitar 14 orang dengan 'kapten kapal' yang berpengalaman.


Namun kenyataannya insiden tenggelamnya perahu wisata di waduk Kedung Ombo sungguh diluar dugaan. Pengemudi atau 'kapten kapal' adalah seorang anak laki-laki berusia 13 tahun. 


pada giat evakuasi korban, 'Kapten Kapal' tersebut harus berkoordinasi dengan tim SAR ikut  memandu pencarian korban yang belum ditemukan. .


"kita koordinasi dengan 'kapten kapal' sebelum melakukan pencarian. Infonya usia masih 13 tahun," ujar Kepala Basarnas Semarang Nur Yahya, Minggu (16/5) seperti dilansir dari laman merdeka.com .



Selain kelebihan muatan, salah satu penyebab terbalik dan tenggelamnya perahu di waduk Kedung Ombo Dukuh Bulu Desa Wonorejo Kecamatan Kemusu Kabupaten Boyolali diduga karena para penumpang yang didominasi perempuan bergerombol di ujung perahu untuk berswafoto. Kondisi itulah yang menyebabkan beban penumpang tidak seimbang, perahu terbalik dan tenggelam.


"Kami sudah melakukan penyelidikan bersama kepolisian. Ada dua faktor penyebab kapal wisata terguling," kata Koordinator Basarnas posko SAR Surakarta, Arif Sugiarto.


Kedua faktor tersebut adalah kondisi kapal yang over kapasitas, dari seharusnya memuat maksimal 14 orang. Namun, yang naik kapal justru 20 orang termasuk 'kapten kapal'nya.


"Penumpang kurang memperhatikan aturan saat berada di tengah air. Seharusnya tidak melakukan selfie karena membuat kapal tidak imbang dan terguling," imbuhnya


Selain kelebihan muatan, ternyata perahu tersebut tidak dilengkapi dengan alat keselamatan. Seperti pelampung ataupun ban dalam sebagai pertolongan darurat. Hal tersebut tentu sangat disayangkan dan patut menjadi pertimbangan pengusaha perahu wisata dan pelaku wisata untuk lebih baik dalam mengelola destinasi wisata. 


Pewarta: Iwan
Editor: Alfin

Lebih baru Lebih lama