REMBANG, SEMARANG Post — Festival Garam Dasun 2026 di Desa Dasun, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, bakal menghadirkan kolaborasi seni yang tidak biasa. Sebanyak 10 seniman dari berbagai daerah di Indonesia akan berkumpul bersama seniman sekaligus petani garam lokal untuk membuat karya lukisan menggunakan garam.
Karya tersebut diberi tajuk “Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun”. Proyek kolaboratif ini ditargetkan menjadi lukisan garam terbesar di dunia sekaligus berupaya menorehkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Karya tersebut merupakan kelanjutan dari gagasan maestro seni rupa Indonesia, almarhum Nasirun. Ide itu disebut telah disampaikan sebelum Nasirun meninggal dunia pada 1 Agustus 2026.
Kurator Festival Garam Dasun, Eggy Yunaedi, mengatakan pemilihan seniman dilakukan melalui mekanisme open call yang berlangsung pada 9-25 September 2026.
Dari puluhan portofolio yang masuk, panitia kemudian memilih 10 seniman dengan latar belakang beragam. Mereka berasal dari kalangan pegiat seni akar rumput, akademisi, hingga seniman yang telah mengikuti berbagai kegiatan seni berskala internasional.
“Pengetahuan tentang garam ingin kami hadirkan agar menyebar, hidup, kemudian ditubuhkan dan diterjemahkan kembali melalui bahasa seni oleh para seniman bersama warga,” ujar Eggy.
Seniman Tinggal Bersama Warga
Kolaborasi tersebut tidak hanya berlangsung di ruang pamer. Para seniman akan mengikuti program residensi pada 14-17 Oktober 2026 dengan tinggal di rumah-rumah warga Desa Dasun.
Konsep tersebut dirancang agar para peserta dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat sekaligus memahami kehidupan petani garam dan berbagai pengetahuan lokal yang berkembang di kawasan pesisir tersebut.
Salah satu peserta residensi, Tri Wahyudi dari Yogyakarta, mengaku bersyukur mendapat kesempatan terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia akan berkolaborasi langsung dengan masyarakat dan petani garam Dasun.
Hal serupa disampaikan Kharisma Widya Kartika, seniman asal Rembang. Ia menyambut antusias kesempatan untuk mengeksplorasi proses berkesenian secara kolektif dengan garam sebagai medium utama.
Kolaborasi ini juga mendapat sambutan dari perwakilan seniman-petani garam Dasun, Mulyono dan Arief Yulianto. Mereka menilai kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan garam tidak hanya sebagai kebutuhan dapur, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan dan kebudayaan masyarakat pesisir.
Pengalaman serta perjuangan petani di tambak nantinya akan diterjemahkan ke dalam sebuah karya seni kolaboratif.
Bukan Sekadar Lukisan
Ketua Panitia Festival Garam Dasun 2026, Angga Hermansah, mengatakan karya tersebut memiliki makna khusus bagi masyarakat petani garam.
“Lukisan garam ini adalah ungkapan syukur para petani garam atas apa yang telah mereka jalani dan warisi. Karya ini bukan hanya karya seni, tetapi juga ruang perjumpaan antara pengetahuan, pengalaman, rasa syukur, dan suara petani garam,” katanya.
Sepuluh seniman yang akan mengikuti residensi tersebut yakni Tri Wahyudi dari Yogyakarta, Putut Pasopati dari Pati, Prabowo Setyadi dari Jatiwangi, Budi Karya dari Jepara, Aqilur Rachman Abdul Charizs dari Jakarta, Dwiki Naufal Ilham dari Lasem, Sonia Prabowo dari Yogyakarta, Munna Laili Hidayana dari Kediri, Kharisma Widya Kartika dari Rembang, dan Andita Purnamasari dari Yogyakarta.
Mereka selanjutnya akan berkolaborasi dengan 10 seniman-petani garam Dasun, di antaranya Tri Murti, Mulyono, Arif Yulianto, dan Rohmadi. Proses penciptaan karya juga akan didukung tim teknis yang berpengalaman.
Melalui Festival Garam Dasun 2026, masyarakat diharapkan tidak hanya menyaksikan lahirnya karya seni berukuran besar, tetapi juga melihat bagaimana kehidupan, pengetahuan, dan pengalaman petani garam dapat diterjemahkan menjadi karya seni.
Karya “Lukisan Garam (meneruskan) Nasirun” tersebut dijadwalkan menjadi salah satu atraksi utama Festival Garam Dasun 2026 di kawasan pesisir Rembang.
Editor: Anast
